PROPOSAL PTK 2 : Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Melalui Metode Membaca Kritis Pada Siswa Kelas V SDI Patallassang Kec. Pujananting Kab. Barru

Oleh : Rijal Haedar

A. Latar Belakang

Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan kurikulum dalam lembaga pendidikan sebagai upaya mempengaruhi para peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan itu sendiri pada dasarnya mengantarkan para peserta didik menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik intelektual, moral, maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial. Akan tetapi berbicara masalah pendidikan, kadangkala dihadapkan pada mata rantai persoalan yang tidak jelas ujung pangkalnya dan dari mana harus memulainya. Betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia, sehingga dengan demikian manusia dituntut untuk menuntut ilmu pengetahuan itu melalui proses pendidikan yang dimaksudkan di atas. Salah satu unsur yang paling penting dalam proses pendidikan adalah belajar.

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi pembelajaran yang sangat penting di pelajari khususnya pada tingkat sekolah dasar. Sebab di sekolah dasar merupakan proses awal untuk pembentukan karakter siswa yang nantinya akan meningkat pada jenjang selanjutnya.

Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan sarana yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, selain sebagai alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan terhadap orang lain serta berfungsi memahami pikiran dan perasaan orang lain. (Depdikbud 1996:3), menyatakan bahwa pengembangan Linguistik Intelegensi (kemampuan/ kecerdasan berbahasa) bertujuan agar manusia mampu berkomunikasi secara lisan dengan lingkungan teman sebaya dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik di sekolah, di rumah, maupun di sekitar tempat tinggal.
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional telah diajarkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai jenjang perguruan tinggi. Hal ini dimaksudkan agar murid atau siswa mampu dan terampil menggunakan kalimat bahasa Indonesia di kalangan masyarakat, namun sampai sekarang boleh dikatakan hasil yang dicapai dalam pengajaran bahasa Indonesia belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peneliti yang pernah dilakukan, sebelumnya oleh: Jusuf Arruan pada tahun 1991, Silvija M. Rokot tahun 1995, dan Cotaji M Kumenap pada tahun 1994. Dari penelitian tersebut masing-masing menyatakan bahwa pengajaran bahasa Indonesia belum memuaskan.
Mempelajari bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari oleh setiap manusia khususnya siswa kelas V SDI Patallassang Kec. Pujananting Kab. Barru. Akan tetapi pengetahuan Bahasa Indonesia tidak muda untuk ditransfer begitu saja tetapi butuh proses pembelajaran.

Keterampilan dalam kemampuan berbahasa meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis yang berdasarkan pada kurikulum 1994 maupun dalam kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi. Keempat aspek keterampilan ini menjadi faktor pendukung dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan pendapat, baik secara lisan maupun tertulis, sesuai dengan konteks komunikasi yang harus dikuasai oleh pemakai bahasa. Berdasarkan keempat aspek kemampuan berbahasa tersebut, tujuan umum pembelajaran berbahasa dapat tercapai (Depdiknas, 2003: 3).
Hal ini senada yang di ungkapkan oleh Lorbach dan Tobin (Efi, 2007 : 4) mengatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari otak seorang guru kepada siswa, siswa yang harus memaknai apa yang telah di ajarkan dengan menyesuaikan terhadap pemahamannya. Proses belajar yang dimaksud disini adalah sebuah proses yang di lakukan dengan penerapan beberapa metode dan kemampuan tenaga pendidik untuk memberikan stimulus kepada siswa sehingga siswa dengan kemampuannya yang di bekali dengan ilmu pengetahuan mampu memahami pelajaran yang diberikan oleh guru.

Hasil yang dicapai siswa kelas V SDI Patallassang Kec. Pujananting Kab. Barru sebelum dilakukan penelitian menunjukkan nilai di bawah standar minimal (55%). Dan untuk mengetahui secara pasti manfaat dari penerapan metode membaca kritis pada siswa perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Dalam penelitian ini, siswa di harapkan mampu mencapai keriteria ketuntasan minimal (65-85%), dan mampu memberikan umpan balik dalam artian memberikan respon terhadap proses membaca materi yang disajikannya. Dan untuk memiliki kemampuan pemahaman kritis terhadap materi bacaan maka, diperlukan latihan yang sistematis dan terarah yang tentunya di dahului oleh pola yang diterapkan oleh tenaga pendidik. Dalam proses belajar-mengajar, salah satu pendekatan yang ingin diterapkan adalah kemampuan membaca pemahaman dengan metode membaca kritis.

Selengkapnya download di sini

atau di sini

About these ads

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: