PROPOSAL PTK 6 : Peningkatan Kemampuan Mengapresiasi Cerita Fiksi Dengan Menggunakan Strategi Aktivitas Terbimbing Pada Siswa Kelas V SD Inpres 40 Lajari Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru

Oleh : Darmawati

A. Latar Belakang Masalah

Dalam Undang- Undang Dasar ditegaskan bahwa Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Indonesia mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan yang diatur oleh undang-undang dasar. Hal tersebut dijelaskan dalam UU NO. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 1 ayat (1) yang sejalan dengan pendapat Hasbullah, 2005: 97 yang menyatakan bahwa :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Komponen-komponen pendidikan dasar merupakan satu kesatuan yang turut menentukan keberhasilan pendidikan sekolah dasar, salah satu komponen yang dimaksud adalah bidang pengajaran di antaranya Bahasa Indonesia.
Tujuan pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah dasar lebih diarahkan pada kompetensi murid untuk berbahasa dan berapresiasi sastra. Pelaksanaan pembelajaran sastra dan bahasa dilaksanakan secara terintegrasi. Diungkapkan dalam kurikulum satuan pendidikan (Depdiknas, 2006: 317) bahwa “dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tentang bahasa. Sedangkan sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan menghayati dan memahami karya sastra”. Sejalan dengan itu Djuanda (2002 : 54) mengemukakan bahwa “pengetahuan tentang karya sastra dijadikan sebagai penunjang dalam mengapresiasi”.

Dalam mencapai tujuan pembelajaran apresiasi sastra di Sekolah Dasar, murid diberikan pengalaman bersastra melalui kegiatan apresiasi karya sastra, Beach dan Marshall (Suriyanti, 2004: 1) menyatakan bahwa “dalam pembelajaran apresiasi sastra ada faktor utama yang berinteraksi secara dinamis yaitu guru, murid, dan teks. Interaksi ketiga hal tersebut dapat mengembangkan potensi pada diri anak”. Pembelajaran apresiasi sastra di SD diharapkan berlangsung efektif. “Guna menuju pembelajaran apresiasi sastra yang efektif diharapkan melewati tingkat apresiasi yaitu menggemari, menghayati, merespon dan memproduksi karya sastra” Solchan dkk (Hafid, 2003: 2).

Teks sastra relevan dengan usia murid kelas V sekolah dasar, karena pada umumnya disenangi oleh anak-anak. Penggunaan teks sastra sebagai bahan ajar mengacu pendapat Zuchdi dan Budiasi, (Hafid dkk, 2005: 5) bahwa “pada umumnya anak-anak senang membaca karya sastra karena sifatnya yang indah dan berguna bagi murid”. Lebih lanjut Aziz, (Supriyadi, 2004: 5) menyatakan bahwa “cerita fiksi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki keindahan dan kenikmatan tersendiri”.
Pemahaman teks cerita sebagai bahan pembelajaran apresiasi sasrta di Sekolah Dasar disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikilogis atau jiwa serta moral anak. Tarigan (2002: 10) menyatakan “bahwa anak yang berusia antara 9-12 tahun menyukai cerita kehidupan keluarga yang dilukiskan secara realistis, cerita-cerita fantastis dan cerita petualangan”.
Aminuddin (2004 dan 1999) menyatakan bahwa “anak usia 11 tahun ke atas sudah mampu melakukan penalaran, sudah mampu melakukan pemahaman melalui kegiatan hipotesis, dan implementasi, konsep/prinsip. Dalam membaca sastra perhatian mereka sudah mulai bersifat ganda, yakni dalam gambaran peristiwa dalam cerita dan gambaran peristiwa dalam kehidupan sehari-hari”.

Pembelajaran apresiasi sastra di sekolah dasar diharapkan terlaksana sesuai harapan. Dalam kenyataan kondisi tersebut sangat mengecewakan. Hal ini di ungkapkan (Suriyanti, 2004: 2) bahwa “kondisi pengajaran sastra sejauh ini sangat mengecewakan, kekecewaan terhadap pengajaran sastra dirasakan nyaris banyak kalangan seperti sastrawan oleh pemerhati sastra, masyarakat, murid, bahkan juga kalangan guru sendiri”.

Kondisi sastra dan pembelajarannya, khususnya sastra anak-anak menurut Trimansyah (1999: 2) mengatakan bahwa “terasa terhenti dan jauh tertinggal dan hampir tidak digubris, akibatnya tertinggalnya sastra anak-anak, murid tidak mengetahui keberadaan sastranya”. (Hafid, 2003: 5) mengungkapkan bahwa “bahan pembelajaran apresiasi di sekolah dasar bertumpu pada buku paket”. Kegiatannya hanya menjawab pertanyaan yang ada dalam buku teks, kemampuan apresiasi hanya berupa pemahaman cerita, bukan pengalaman bersastra dan penikmatan cerita, serta tidak terjadi interaksi apresiasi antara murid dengan bacaan cerita. Selain itu, emosi anak tidak terlibat pada kejadian dalam cerita, took cerita dan isi cerita. Pembelajaran seperti itu tentu belum efektif.

Kondisi tersebut di atas di asumsikan tidak jauh berbeda dengan kondisi di SDI 40 Lajari. Hal ini terungkap dari hasil observasi pada bulan Desember terhadap guru dan murid, ditemukan masalah 1) belum dilaksanakan sebagai suatu proses pembelajaran bahasa dan sastra yaitu tahap persiapan apersepsi, pelaksanaan apersepsi, dan tindak lanjut apersepsi, 2) bimbingan murid dalam mengapresiasi belum tergarap secara maksimal, 3) hasil apresiasi cerita terbatas pada pemahaman literal pada pelaku cerita, belum sampai pada tindak pemahaman apresiasi rangkaian cerita, latar cerita dan suasana cerita.

Fungsi utama strategi aktivitas terbimbing adalah 1) dapat membantu murid dalam belajar menggambarkan pengetahuan awalnya dalam membuat kesimpulan dan pengalaman pembaca dengan teks, dengan menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang ada dalam teks murid dapat memahami teks dengan baik dan tanpa merasa terbebani, 2) dapat membantu murid mengorganisasikan struktur teks sehingga murid memahami unsur-unsur cerita dengan baik.

Sehubungan dengan pernyataan di atas, maka sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan secara langsung oleh peneliti, bahwa kemampuan murid pada materi ini, hanya mencapai nilai ketuntasan minimal 33,33% yang seharusnya mendapat kriteria ketuntasan minimal (KKM) 70%. Hal ini, menunjukkan bahwa kemampuan mengapresiasi cerita belum mencapai tahap pemahaman secara baik.

Pemilihan kelas V SD Inpres 40 Lajari berdasarkan pertimbangan bahwa: 1) murid kelas V rata-rata berusia 10-12 tahun pada fase ini berada pada tahap perkembangan berpikir operasional kongkrit dan berpikir formal serta perkembangan dimasa kognitif, bahasa emosional, dan sosial murid sudah mampu untuk mengapresiasi karya sastra, 2) dengan peneliti, kepala sekolah, dan guru kelas V sudah terjalin komunikasi yang baik, 3) murid kelas V memiliki kultur yang beragam, ditinjau dari status sosial, emosional, etnis, dan pendidikan orang tua. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas sekolah ini refresentatif untuk dikembangkan, hal ini dapat dilihat dari potensi yang dimiliki oleh guru dan murid.

Selengkapnya dapat anda Download Di Sini

Hanya untuk berbagi : MUHAMMAD KARWAPI

About these ads

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: