PROPOSAL PTK 11 : Penerapan Teori Brunner Untuk Meningkatkan Motivasi Siswa Kelas III Di SDN 375 Tancung Mengenai Konsep Keliling Dan Luas Daerah Bangun Datar

A. Latar Belakang

Pembelajaran dengan metode belajar konvensional cenderung menerapkan standarisasi, kontrol luar, satu ukuran untuk semua, pengkondisian behavioristis (hadiah dan hukuman) dan tekanan pada format “aku bicara-kamu mendengar” merupakan suatu pembelajaran yang membosankan sehingga cara seperti ini tidak dapat dipertahankan lagi pada era sekarang ini

Pengalaman pada setiap tahun bahwa siswa yang duduk di kelas III SDN No 375 Tancung, tingkat penguasaan siswa pada materi tentang standar kompetensi menghitung luas dan keliling luas persegi, dan persegi panjang, serta penggunaannya dalam pemecahan masalah, pada kompetensi dasar (1) mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat dan unsurnya, (2) menghitung keliling persegi dan persegi panjang, (3) menghitung luas persegi dan persegi panjang. Ternyata masih rendah.

Masih rendahnya hasil belajar matematika siswa pada konsep keliling dan luas bangun datar di SDN No 375 Tancung merupakan salah satu implikasi terhadap masih belum optimalnya upaya guru membangkitkan seluruh potensi siswa dalam proses pembelajaran, terutama pada aspek perencana dan pelaksanaan kurikulum secara bermakna

Menurut Mulyasa (2005:13) bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum sehingga perlu untuk meningkatkan aktifitas, kreatifitas, kualitas, dan profesionalisme. Karena itu maka masalah rendahnya hasil belajar matematika siswa harus disikapi dengan melakukan berbagai modifikasi penggunaan model pembelajaran melalui keterlibatan penuh siswa, kerja sama murni, variasi dan keragaman dalam metode belajar, motivasi internal, adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar, dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap pengorganisasian pembelajaran.

Belajar tentu bukanlah kegiatan menerima dan mendengar saja tetapi belajar diarahkan agar siswa bekerja, bertanya, menggali, mencipta (mengalami sendiri) untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Hasil belajar matematika merujuk pada penguasaan konsep, penalaran dan komunikasi serta pemecahan masalah. Masih rendahnya tingkat penguasaan siswa pada ketiga aspek tersebut memberikan dorongan dan inspirasi untuk mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan model pembelajaran yang menantang dan menciptakan situasi baru yang menyenangkan. Model pembelajaran yang berpusat kepada aktifitas siswa merupakan salah satu alternatif yang dapat memberi peluang lebih besar untuk terwujudnya proses pembelajaran yang bermutu.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa kelas III SDN No. 375 Tancung dalam proses pembelajaran matematika, perlu penerapan model pembelajaran yang tepat, yang dapat membangkitkan minat, keaktifan, dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang terpusat kepada guru (teacher centered) harus diubah menjadi pembelajaran yang terpusat kepada siswa (student centered). Artinya, pembelajaran terfokus pada penguasaan siswa atas materi dan penciptaan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, sehingga memudahkan siswa memahami pelajaran yang disajikan oleh guru. Keaktifan dan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran akan memberikan pengaruh yang besar untuk menjaga kelangsungan belajar siswa dalam tingkat kesungguhan belajar yang tinggi.

Selengkapnya dapat anda Download Di Sini

Hanya untuk berbagi : MUHAMMAD KARWAPI

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: