PROPOSAL PTK 12 : Penerapan Strategi Kelompok Diksi Dengan Menggunakan Kartu-Kartu Kata Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas V Di SDN 214 Baru Tancung Dalam Menulis Puisi Bebas

A. Latar Belakang
Pelajaran Bahasa Indonesia memiliki karakteristik tersendiri, yaitu menyangkut kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Kemampuan berkomunikasi tersebut meliputi kemampuan membaca, kemampuan menulis, kemampuan berbicara, dan kemampuan mendengar. Bahkan ditambah dengan kemampuan mengapresiasi karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan drama.

Namun kenyataannya bahwa di SDN No. 214 Baru Tancung prestasi siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih rendah. Penyebab rendahnya prestasi siswa tersebut disebabkan oleh faktor siswa dan faktor lain di luar siswa. Penyebab rendahnya prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa dapat dilihat dalam bentuk proses pembelajaran yang belum memberi kesan menarik sehingga pengertian siswa tentang materi materi pembelajaran menjadi sangat lemah.

Belajar Bahasa Indonesia bukan hanya sekedar aktivitas membaca, menulis, berbicara, dan mendengar. Bahasa Indonesia harus aplikatif dengan kebutuhan hidup. Oleh karena itu, materi Bahasa Indonesia bukan lagi terfokus pada keempat komponen di atas tetapi bergam jenis topik dan persoalan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, salah satu materi yang paling tidak diminati siswa adalah pembelajaran sastra, utamanya puisi. Ketidaksukaan siswa pada pembelajaran puisi disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena puisi sulit dipahami maknanya, juga disebabkan oleh situasi pembelajaran yang membosankan dan kurang menarik sehingga siswa tidak termotivasi mempelajari puisi.

Dalam mengajarkan puisi, guru harus menciptakan suasana yang rileks dan menyenangkan. Rileks dalam situasi belajar sangatlah penting untuk menumbuhkan perasaan suka siswa pada puisi, terutama untuk menimbulkan kesan bahwa puisi bukanlah hal yang sulit dipahami. Berdasarkan catatan dokumentasi, proses pembelajaran pada kompetensi dasar “ menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai “ terutama dalam menentukan diksi yang tepat dengan pengajaran model langsung (tanpa media/alat bantu) tidak mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa sehingga pada saat penilaian, prestasi belajar yang diperoleh sangat rendah.

Kurangnya partisipasi dan motivasi siswa terhadap pelajaran mengakibatkan rendahnya tingkat daya serap. Catatan dokumentasi tahun lalu yaitu pada tahun pelajaran 2005/2006 dari salah satu kelas yang jumlah siswanya 35 orang, hanya terdapat 12 orang yang mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM = 7,02) dan 23 siswa lainnya berada di bawa standar ketuntasan belajar minimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para siswa tidak mampu menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Rerata klasikal hanya mampu mencapai 60,3 . Ini memberikan asumsi bahwa daya serap siswa secara klasikal hanya mencapai 61 %. Sungguh merupakan suatu masalah serius yang patut mendapat penanganan secara tepat.

Ketuntasan belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Hudoyo (1988:6) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas proses belajar mengajar adalah peserta didik, pengajar, sarana prasarana, dan penilaian. Rendahnya ketuntasan belajar puisi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas siswa, sedangkan rendahnya aktivitas siswa dipengaruhi oleh model pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran puisi, selain dari faktor – faktor di atas, faktor lain yang mempengaruhi rendahnya aktivitas dan partisipasi siswa dalam pembelajaran adalah pemaknaan puisi itu sendiri. Makna puisi berkaitan erat dengan unsur-unsur pembangun struktur puisi karena melalui unsur-unsur puisi maka makna puisi dapat diungkapkan. Dalam hal ini, makna dapat diartikan sebagai isi puisi.

Khusus dalam penulisan puisi bebas, siswa masih mengalami kendalah yang besar. Oleh karena itu, dalam pengajaran penulisan puisi idealnya guru dituntut sebagai : pencipta suasana, pemandu, dan inspirator, dan apresiator. Guru harus mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk kegiatan penulisan puisi, yaitu suasana yang membebaskan siswa dari segala perasaan takut, malu, terpaksa, dan berbagai hal yang dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya kreativitas siswa.

Sebagai pemandu, guru dituntut mampu membimbing siswa dalam melakukan proses kegiatan penulisan puisi sesuai dengan tahapan-tahapan penulisan puisi, yaitu (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verifikasi (Munandar, 1988). Sebagai inspirator, guru harus mampu bertindak sebagai sumber inspirasi bagi siswa-siswa yang kekurangan ide atau tidak memiliki ide untuk ditulis.

Sebagai apresiator, guru harus dapat bertindak sebagai orang yang mau menghargai karya-karya siswa. Dengan cara ini siswa merasa berhasil karena karyanya dihargai, dan terus terpacu untuk menulis. Guru harus memberi kritikan yang sifatnya membangun dengan cara menunjukkan kekurangan dan kelebihan karya siswa.
Secara umum, ada tiga hal penting yang merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran puisi, yaitu (1) siswa hendaknya memperoleh kesadaran yang lebih baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan sekitarnya, (2) siswa hendaknya memperoleh kesenangan dari membaca dan mempelajari puisi sehingga tumbuh keinginan membaca dan mempelajari puisi, dan (3) siswa hendaknya memperoleh pengetahuan dan pengertian dasar tentang puisi hingga tumbuh keinginan memadukannya dengan pengalaman pribadinya yang diperoleh di sekolah kini dan mendatang (Nadeak, 1985).

Untuk mencapai terwujudnya tujuan pembelajaran puisi tersebut terutama pembelajaran penulisan puisi, maka guru memerlukan strategi, metode, dan alat bantu yang tepat. Strategi, metode, dan alat bantu yang dipilih harus mampu membangkitakan minat, motivasi, dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang diterapkan untuk membangkitakan minat, motivasi, dan partisipasi siswa, adalah strategi yang menggunakan prinsip pembelajaran kontekstual dalam arti bahwa siswa itu senang bermain, kemudian mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kontekstual yang biasa dilakukan siswa sehari-hari. Strategi pembelajaran seperti ini sengaja diterapkan untuk memancing siswa berkreasi, bermain, dan bernalar.
Strategi pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih melatih kemampuan berpikir, bernalar dan menggali segenap potensi yang ada pada dirinya. Siswa diarahkan agar mampu menempatkan dirinya sebagai pemeran penting dalam proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Strategi pembelajaran ini merupakan suatu bentuk inovasi untuk dapat menciptakan situasi pembelajaran yang menantang dan menyenangkan agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Berdasarkan konteks siswa maka strategi yang diterapkan adalah “ strategi kelompok diksi “ karena dalam proses pembelajaran siswa terlibat dalam suatu aktivitas membuka kartu kata sebagai media (alat bantu) dalam menulis puisi. Penerapan strategi kelompok diksi pada kompetensi dasar “ menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang sesuai” dianggap mampu menciptakan suatu proses pembelajaran yang bermutu, dialogis, bermakna dan menyenangkan.

Selengkapnya dapat anda Download Di Sini

Hanya untuk berbagi : MUHAMMAD KARWAPI

 

 

 

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: