PROPOSAL PTK 10 : Penerapan Teknik Dramatisasi Dengan Media Cerita Bergambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berekspresi Sastra Siswa Kelas III Di SDN No. 2 Maddukkelleng

A.   Latar Belakang Masalah

        Proses belajar mengajar di sekolah, khususnya di dalam kelas, merupakan suatu proses kegiatan yang berlangsung rutin dan terus menerus yang dilakukan oleh guru dan siswa. Di sisi lain, tujuan akhir yang hendak dicapai dari proses belajar mengajar adalah keberhasilan siswa untuk memahami, menguasai, dan mengimplementasikan ilmunya kelak di lingkungan masyarakat. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak siswa belum mencapai memampuan yang optimal. Pada dasarnya siswa hanya tahu banyak fakta namun tidak mampu memanfaatkannya secara efektif.

     Sementara itu, pemerintah dan masyarakat berharap agar lulusan-lulusan dapat menjadi seorang pemimpin, manager, inovator, dan operator yang efektif dan mampu mengembangkan diri serta menyesuaikan diri terhadap segala perubahan yang terjadi terhadap segala aspek kehidupan. Oleh sebab itu, peranan yang diemban oleh guru sangat berat, karena gurulah yang berada di garis depan dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Atau dengan kata lain guru adalah titik sentral pendidikan.

      Dalam proses belajar mengajar di kelas, guru pasti dihadapkan pada kondisi pembelajaran dengan jumlah siswa, gender, latar belakang etnis, agama, sosio-ekonomi, budaya, tingkah laku dan kemampuan akademik siswa yang beraneka ragam sehingga untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran, bukanlah suatu hal yang mudah. Guru dituntut profesional untuk melaksanakan semua itu.

          Peranan yang diemban oleh guru tidak hanya sekedar mengupayakan agar siswa dapa memperoleh berbagai ragam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi lebih dari itu, seorang guru harus dapat mendorong siswa untuk dapat bekerja secara berkelompok dalam rangka menumbuhkan daya nalar, cara berpikir logis, sistimatis, kreatif, cerdas, dan rasa ingin tahu dan dapat menciptakan suasana yang membuat aktif siswa di dalam proses pembelajaran.

             Bila siswa diberikan tanggung jawab yang lebih besar, maka siswa akan lebih serius belajar. Hal ini senada dengan pandangan Bejarono (1987) yang mengatakan bahwa pembelajaran yang dianggap paling baik yaitu siswa terlibat secara aktif di dalam proses belajar mengajar.

   Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dipahami oleh siswa sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik. , sehingga pada akhirnya berpengaruh terhadap sikap siswa yang kurang aktif dan tidak termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini berakibat pada rendahnya prestasi hasil belajar yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran ini.

Padahal, mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang sangat penting, karena mata pelajaran ini di samping menjadi salah satu mata pelajaran yang diujiannasionalkan juga mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra dengan aspek mendengar, berbicara, menulis, dan berbicara, dengan tujuan :

  1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
  2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
  3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
  4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
  5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

   Rendahnya keaktifan dan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia telah lama menjadi permasalahan guru di SDN No 2 Maddukkelleng. Telah berbagai strategi pembelajaran model kelompok diterapkan dan dilakukan, namun proses pembelajaran hanya didominasi oleh siswa yang pandai, sementara siswa yang berkemampuan rendah dan sedang tidak memperlihatkan partisipasinya dalam pembelajaran, sehingga tidak terjadi interaksi dalam pembelajaran, terutama interaksi antara siswa dengan siswa.

  Dalam kondisi seperti itu, tujuan pembelajaran model kelompok tidak terwujud karena siswa tidak mampu bekerja sama, tidak mampu menyampaikan pendapat dan menanggapi pendapat orang lain. Hal ini merupakan kegagalan guru dalam proses pembelajaran. Ada kecenderungan pembelajaran terpusat kepada guru (teacher centered). Tidak ada umpan balik (feedback)  dari siswa sehingga proses pembelajaran tidak bermutu. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa hasil penilaian proses tidak sesuai dengan harapan.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa kelas III di SDN No. 2 Maddukkelleng dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, perlu penggunaan model pembelajaran yang tepat, yang dapat membangkitkan minat, keaktifan, dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang terpusat kepada guru (teacher centered) harus diubah menjadi pembelajaran yang terpusat kepada siswa (student centered).  Artinya, pembelajaran terfokus pada penguasaan siswa atas materi dan penciptaan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, sehingga memudahkan siswa memahami pelajaran yang disajikan oleh guru. Keaktifan dan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran akan memberikan pengaruh yang besar untuk menjaga kelangsungan belajar siswa dalam tingkat kesungguhan belajar yang tinggi.

Dengan kondisi seperti di atas, pada dokumen prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas III di SDN No. 2 Maddukkelleng beberapa tahun terakhir, kelas yang jumlah siswanya 24 orang, hanya terdapat 11 orang yang mencapai Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM = 7,02) dan 33 siswa lainnya berada di bawa standar ketuntasan belajar minimal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa para siswa tidak mampu menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Rerata klasikal hanya mampu mencapai 60,4 . Ini memberikan asumsi bahwa daya serap siswa secara klasikal hanya mencapai 61 %. Sungguh merupakan suatu masalah serius yang patut mendapat penanganan secara tepat.

 Menurut Mulyasa (2005:13) bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum sehingga perlu untuk meningkatkan aktivitas, kreativitas, kualitas, dan profesionalisme. Karena itu maka masalah rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia siswa harus disikapi dengan melakukan berbagai modifikasi penggunaan strategi pembelajaran melalui keterlibatan penuh siswa, kerja sama murni, variasi dan keragaman dalam metode belajar, motivasi internal, adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar, dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap pengorganisasian pembelajaran.

Selengkapnya dapat anda Download Di Sini

Hanya untuk berbagi : MUHAMMAD KARWAPI

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: